Depo Kontainer Rp100 Miliar di Balikpapan Mulai Ditawarkan ke Investor Asing

BALIKPAPAN – Pemerintah Kota Balikpapan mulai menawarkan proyek pembangunan depo kontainer terpadu di Kilometer 13, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, kepada investor asing. Proyek infrastruktur logistik tersebut diproyeksikan memiliki potensi pendapatan hingga Rp100 miliar per tahun.

INFRASTRUKTUR

10/30/20262 min read

Peluang investasi itu diperkenalkan dalam Mahakam Investment Forum di Samarinda, sebagai bagian dari upaya Pemkot Balikpapan menarik penanam modal untuk mengembangkan sektor logistik daerah.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Balikpapan, Muhammad Fadli Pathurrahman, mengatakan proyek depo kontainer tersebut memiliki nilai strategis, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga untuk mendukung kelancaran distribusi barang.

Penawaran dilakukan melalui kolaborasi dengan DPMPTSP Balikpapan, DPMPTSP Provinsi Kalimantan Timur, serta Bank Indonesia. Dalam forum tersebut, Pemkot juga melakukan pertemuan langsung dengan sejumlah calon investor, termasuk pihak dari Hong Kong.

Dari sisi kesiapan, pemerintah telah menyediakan lahan seluas 11,4 hektare yang berstatus aset daerah. Sejumlah dokumen perencanaan seperti Detail Engineering Design (DED), studi kelayakan, dan kajian bisnis juga telah disiapkan dan ditinjau sepanjang 2016–2025.

Meski demikian, realisasi proyek masih menghadapi pekerjaan rumah, terutama penyelesaian pembersihan lahan atau land clearing.

Pada tahun anggaran 2026, Pemkot Balikpapan mengalokasikan sekitar Rp10 miliar melalui APBD untuk pekerjaan tersebut. Namun, pelaksanaannya baru menjangkau sekitar 3.700 meter persegi.

Sementara kebutuhan anggaran untuk membersihkan seluruh kawasan diperkirakan mencapai Rp50 miliar hingga Rp60 miliar.

Kondisi ini membuat keterlibatan investor menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong proyek bergerak dari tahap perencanaan menuju pembangunan.

Daya tarik lainnya terletak pada posisi geografis kawasan depo. Lokasinya memiliki akses menuju jalan tol serta terhubung dengan jalur distribusi dari Pelabuhan Semayang dan Kaltim Kariangau Terminal (KKT).

Waktu tempuh dari kawasan pelabuhan menuju lokasi diperkirakan hanya sekitar 10–15 menit. Akses tersebut diharapkan mampu menunjang distribusi kontainer ke Balikpapan, wilayah sekitarnya, hingga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Selain menjadi pusat aktivitas logistik, depo ini juga dirancang untuk membantu menata pergerakan kendaraan berat di dalam kota. Selama ini, angkutan kontainer menjadi salah satu jenis kendaraan yang perlu dikelola agar tidak menambah beban lalu lintas pada jalan utama perkotaan.

Dengan tersedianya kawasan khusus, aktivitas bongkar muat dan distribusi barang diharapkan lebih terpusat dan terorganisasi.

Meski kajian bisnis memperkirakan potensi pendapatan mencapai Rp100 miliar setiap tahun, angka tersebut masih berupa proyeksi. Realisasinya akan bergantung pada nilai investasi, skema kerja sama, serta pola pengelolaan yang nantinya disepakati.

Pemkot Balikpapan berharap penjajakan dengan calon investor dapat berlanjut ke pembahasan kerja sama yang lebih konkret, sehingga pembangunan depo kontainer terpadu di Kilometer 13 dapat segera direalisasikan.